EMANGNYA HUKUM NEWTON SEPUITIS INI?

Jatuh cinta.
Menurutku, jatuh cinta itu hal yang biasa, karena sifatnya yang tidak konsisten. Hari ini iya, besok bisa tidak.

Tapi, pernah dengar jatuh suka nggak?
Menurutku, jatuh suka justru lebih menarik—ketidakkonsistenan yang konsisten. Tidak perlu periode, hanya butuh intensitas.

Hukum Newton 1 – Inersia.
Benda akan tetap diam atau bergerak konstan, kecuali ada gaya yang mempengaruhinya.

Di dunia yang luas ini, ada seorang manusia yang, entah bagaimana, membuat aku jatuh suka. Selalu. Dengan konstan, dan mutlak.

Orangnya nggak terlalu spesial. Selain bentuk tubuhnya yang nggak terlalu tinggi atau pendek, bahunya itu... nggak cukup lebar. Tapi, untuk waktu yang sangat lama, dia masih cukup layak untuk membuat aku jatuh suka.

Sebagai orang biasa, yang bisa aku lakukan hanyalah tetap diam, tenang, menata, dan mengontrol perasaanku baik-baik…
Walaupun yang dia lakukan hanyalah hidup, dan nggak pernah tahu hal-hal yang aku sembunyikan, tetap saja—dia duri dalam jemari.
Tepatnya, gangguan kecil yang lembut, tapi cukup untuk mengubah seluruh arahku.

Nggak perlu kata, nggak perlu aksi besar. Dia cukup ada.
Dan entah kenapa, itu selalu cukup untuk membuatku jatuh suka lagi.
Rasanya seperti digeser pelan dari lintasan yang tadinya stabil.
Aku mencoba tetap lurus, tapi nyatanya… gravitasi perasaanku selalu condong ke dia.

Gimana ya, melupakan orang yang membuat kita jatuh suka… ternyata lebih sulit dibanding jatuh cinta.

Jatuh cinta itu biasa saja.
Setiap hari bisa. Kepada apa pun bisa.

Dulu, semasa SMA, ada pertanyaan yang selalu aku tanyakan tentang temanku, orang yang begitu dekat.
Dia membuat aku bingung.
Bukan karena aku nggak ngerasain apa-apa, justru karena rasanya terlalu campur.
Kadang aku mikir aku suka. Tapi di momen lain, aku bisa kesel, kecewa, atau ngerasa nggak nyambung.
Rasa yang harusnya bikin nyaman, justru sering bikin aku lelah sendiri.

Dan mungkin, di sinilah aku berdiri sekarang.
Antara rasa yang hadir tanpa aba-aba, dan rasa yang muncul lewat kedekatan tapi penuh pertanyaan.

Mereka beda. Tapi keduanya ninggalin ruang di pikiranku.
Yang satu ringan tapi nempel, yang satu dalam tapi rumit.
Dan aku? Masih belum bisa menyimpulkan ini semua.
Karena kadang… kita nggak butuh definisi buat rasa yang terlalu jujur untuk dijelaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BARTER SEHARI, BOLEH?

POP ICE RASA PICK ME

GAGAL "TERMANGU"